ZONAKEPO – Corona ternyata membawakan dampak positif juga, khususnya untuk lingkungan. Karena COVID-19, aktivitas orang di luar rumah turun drastis, otomatis kendaraan yang lalu-lalang di jalan pun juga berkurang.

Polusi dari kendaraan yang biasanya mengotori langit sekarang sudah tidak lagi. Langit yang biasanya dipenuhi karbon dioksida sekarang jauh lebih segar dan lebih cerah dari biasanya.

Contohnya saja di ibu kota Jakarta. Sebagai kota terpadat di Indonesia, kondisi udara di Jakarta pun sangat tercemar oleh polusi kendaraan. Namun, di masa isolasi karena wabah corona ini, kondisi udara di Jakarta jauh berbeda.

Kawasan Kemang, Jakarta Selatan pada awal April 2020 yang sepi dan lengang membuat udara menjadi bersih
Kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat yang sepi dan lengang pada Sabtu (4/4/2020)
Kawasan Jalan Jenderal Soedirman, Dukuh Atas, Jakarta Pusat yang sepi dan lengang pada Sabtu (4/4/2020)

 

Kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada awal April 2020 yang sepi dan lengang membuat udara menjadi bersih.

 

Melihat kondisi tersebut, KPBB merekomendasikan pelaksanaan social/physical distancing dilanjutkan secara disiplin dan konsisten oleh masyarakat dengan tindakan tegas dan disiplin dari aparat pemerintah, sehingga mampu memutus potensi penularan COVID-19 dan meningkatkan kualitas udara di Jakarta. Hal serupa juga dapat terjadi di kota- kota lain kategori red-zone darurat COVID-19 yang selama ini padat dengan kendaraan bermotor dan industrialiasi.

Agar pelaksanaan social/physical distancing efektif, KPBB melihat perlu adanya kepastian fasilitasi yang memadai dari pemerintah seperti kemudahan akses kebutuhan pokok baik dari aspek harga maupun kuantitas pasokan, jaminan pemenuhan kebutuhan pokok oleh pemerintah bagi masyarakat berpenghasilan harian dan atau masyarakat berpenghasilan tidak tetap, serta para usia lanjut.

Masa social/physical distancing bisa menjadi momentum untuk melakukan redesign, menata ulang tata kelola pembangunan, industri, transportasi dan energy, sehingga lebih berorientasi pada pengendalian emisi dan konsumsi energi.

“Momentum 20 hari pelaksanaan social/physical distancing ini cukup kuat menanamkan pesan kepada seluruh masyarakat akan pentingnya perencanaan kerja secara efektif dan efisien baik dalam proses pembangunan, industry, transportasi dan penggunaan energy; sehingga ini adalah saatnya pemerintah memegang kendali dengan orientasi pada keseimbangan antara kepentingan masyarakat banyak (diukur dari terjaganya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup termasuk kualitas udara) berhadapan dengan kepentingan capital. Tidak seperti yang lalu, bahwa kendali pemerintah lepas dan diambil alih oleh kekuatan capital dan oportunis politik, baik berskala lokal, nasional maupun global,” kata Puput.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *